Selasa, 18 Desember 2012

PRIBADI SEORANG GURU

Mengajar merupakan suatu pekerjaan atau perbuatan yang bersifat unik tapi sederhana. Dikatakan unik karena hal itu berkenaan dengan manusia yang belajar (siswa dan guru). Dikatakan sederhana karena mengajar dilaksanakan dalam keadaan praktis (dalam kehidupan sehari-hari), mudah dihayati oleh siapa saja.

Mengajar merupakan perilaku yang universal, di mana semua orang dapat melakukannya. Namun tidak semua orang mampu menjadi guru (pengajar) yang baik bagi orang yang diajarnya. 

Seorang guru harus menjadi orang yang sempurna di hadapan anak didiknya. Karena guru tidak hanya dilihat dari segi keilmuannya saja, tapi mencakup segala aspek kehidupannya, pola pikirnya, dan tingkah lakunya.

Bukan sesuatu yang mustahil bila seseorang akan mengikuti atau meniru apa yang dilakukan gurunya. Berangkat dari hal ini, maka seorang guru harus selalu memperhatikan dan menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat merusak citranya sebagai seorang guru. 

Guru, selain memiliki tingkat keilmuan yang tinggi juga harus memiliki akhlak dan jiwa yang baik. Guru tidak hanya mengajarkan anak-anak didiknya ilmu-ilmu yang tercantum dalam kurikulum sekolah saja, tapi juga membina perilaku mereka. Dan ini akan terjadi bila guru tersebut merupakan sosok yang patut ditiru dan dapat dijadikan teladan. 

Seorang guru harus menyadari, bahwa mengajar memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek psikologis, pedagogis, dan didaktis secara bersamaan. Namun guru bukanlah nabi ataupun malaikat, akan tetapi dia layaknya manusia biasa yang tak sempurna dan memiliki kehidupan pribadi dengan segudang permasalahan. Meski begitu, ia harus selalu tampil prima dan baik di hadapan semua orang (anak didik) mengingat guru merupakan seorang panutan.

Telah disinggung di atas, semua yang berkaitan dengan guru selalu menjadi bahan sorotan. Sorotan itu tidak hanya pada hal-hal yang kelihatan saja atau sebaliknya, akan tetapi semuanya. 

Hal yang paling sederhana dan dapat kita lihat serta selalu menjadi pandangan orang adalah mengenai bagaimana berpakaian. Maka cukuplah bagi seorang guru mengenakan pakaian yang pantas dan sederhana serta sesuai norma yang berlaku. Sederhana dalam berpakaian bukan berarti kuno, kucel, atau jelek. Akan tetapi sesuai, pantas, dan tentunya bersih. 

Sederhana juga harus ditampilkan seorang guru dalam bagaimana ia berbicara dan bercanda. Bercanda tidak boleh terlalu berlebihan. Dalam bercanda hendaknya tidak membawa nama Allah SWT dan Rasul-Nya dan hendaknya bercanda dengan sesuatu yang benar, tidak mengundang dusta. Bercanda tidak mengandung unsur menyakiti perasaan orang lain.

Selain dari pada hal yang terlihat (lahiriyah), seorang guru yang tangguh memiliki jiwa yang kuat. Sebagaimana manusia biasa yang tak jauh dari masalah, seorang guru harus dapat mengatur hatinya agar tetap selalu dingin. 

Guru dengan peran ganda memiliki masalah yang kompleks pula. Allah SWT telah memberi kunci pada kita dalam menghadapi masalah-masalah yang menggelayuti kehidupan, yaitu sabar dan shalat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. al-Baqarah: 153

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Dalam Q.S. ath-Thalaq: 2-3 Allah SWT berfirman:

“Barang siapa yang bertaqwa pada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya.”

Sifat sabar, takwa, dan tawakkal dapat kita katakan sebagai sikap lapang dada dan tabah. Lapang dada tidak hanya dicerminkan ketika menghadapi masalah saja, akan tetapi dalam kehidupannya sehari-hari, dengan menghindarkan diri dari sifat marah yang begitu meluap dan berlebihan. 

Bahkan sifat marah yang meluap-luap menyebabkan terjadinya jurang pemisah yang dalam di antara sesama manusia. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barang siapa memaafkan dosa seseorang, maka diampuni dosanya oleh Allah. Barang siapa yang memaafkan orang yang sudah telanjur berbuat salah, maka Allah akan memaafkan keterlanjurannya. Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, Allah akan memberi pahala padanya.” 

Beliaupun telah mengajarkan pada kita tentang bagaimana memadamkan amarah, yaitu dengan diam dan tidak berkata-kata lagi, atau bangun meninggalkan tempat, atau duduk bila kita sedang berdiri, atau berwudhu dengan air dingin, atau mengerjakan sesuatu yang dapat melupakan amarah dan mengembalikan akal kepada ketenangan dan keseimbangan. Karena itulah seorang guru harus dapat mengatur emosinya dan terlihat tenang.

Guru adalah orang yang digugu dan ditiru. Secara sempit guru adalah orang yang mengajarkan pelajaran di sekolah, namun secara luas guru dapat diartikan semua orang yang mengajarkan segala hal di “sekolah kehidupan” (dunia) dan masing-masing kita adalah guru. Guru bagi bangsanya, guru bagi masyarakatnya, guru bagi keluarganya, guru bagi anak-anaknya, dan guru bagi dirinya sendiri. Wallahu a’alam bishshowab.


Disalin dari : http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/12/13/meyo8n-pribadi-seorang-guru

Reaksi:

0 komentar: